Friday, March 9, 2018

Ga Gaul kalo Ga Ngaji


Oleh : Ajeng P Hanifah 
            Akhir zaman ini, ditengah berbagai macam problema ummat yang ada, ada sebuah fenomena yang sangat menyejukan hati dan membangkitkan optimisme diri bahwa Islam akan kembali bangkit, yaitu sedang ngtrennya anak-anak muda yang senang dengan hadir ke kajian-kajian ilmu. Seolah kembali membangunkan singa yang tertidur. Hal ini menjadi sebuah tren yang positif dan patut untuk ditiru. Dibandingkan dengan tren-tren yang sebenarnya menjauhkan para generasi pada Allah SWT. Era ini adalah era yang harus disadari dan menjadi tren bagi semua kalangan, dan ini tengah di gencarkan di kalangan para artis. Sebut saja Teuku Wisnu dkk salah satunya.
            Terlepas dari gerakan apapun, entah tarbiyah, salafi, jama’ah tabligh dsb, budaya ini adalah budaya yang sudah lama ditinggalkan ummat. Saya baru menyadari, bahwa menjadi sosok Public Figure (bukan hanya kalangan artis) adalah peran strategis yang dapat melipat gandakan sebuah tindakan. Dalam hal ini, kebaikkan, tentu akan mendatangkan pahala yang begitu besar manakala apa yang dilakukannya mengingatkan dan mengajak pada kebaikan, dakwah. Semakin hari semakin banyak sosok-sosok yang disadarkan dan mulai memviralkan kegiatan positif ini. Misalnya baru-baru adalah keputusan Fenita Arie (istri dari komedian Arie Untung) yang memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai pembawa acara infotaiment juga memutuskan untuk mengenakan hijab. Tak kalah viralnya yaitu Kartika Putri yang sebelum hijrahnya dikenal dengan sosok yang berpenampilan cukup “berani” yang juga memutuskan berhijrah dengan tekad yang kuat, sampai-sampai menghapus semua fotonya yang belum hijrah di dunia maya, bahkan hingga meminta tolong kepada para fansnya untuk membantu menghapus foto-foto tersebut.
            Selain itu, mulai banyak kembalinya ustadz-ustadz yang gencar dengan gerakan untuk memahamkan ummat. Misalnya K.H. Abdullah Gymnastiar (Aagym) dengan keahlian dalam ilmu ke-Tauhidan, Ustadz Abdul Somad dengan keahlian public speakingnya yang mudah diterima dan viral di media sosial karena dibumbui dengan sikap humoris, Ustadz Hanan Attaki dengan tren anak muda yang gaul tapi tetap syar’i melalui gerakan Pemuda Hijrah yang sangat viral dikalangan para pemuda, juga Ustadz Evie Effendi dengan kemahirannya dalam berbahasa Sunda yang mampu menjadi sosok humoris karena nasihat-nasihatnya yang sederhana tapi ngena juga sosok anak motor yang bertaubat. Keberagaman tersebut hadir bukan untuk diperdebatkan apalagi mengkotak-kotakan, justru hal tersebut hadir agar warna dari setiap karakteristik guru bisa kita kenali dengan baik juga segmentasi peserta yang berbeda yang mampu memberikan ruang untuk memilih sesuai dengan gayanya masing-masing. Paling mendasar dan penting adalah semua mengajarkan ummat untuk kembali menjadi muslim yang kaffah dan menyambut era akhir zaman yang semakin dekat ini.
            Belajar pada sejarah Turki, khilafah terakhir yang berjaya disana ialah masa Ustmani. Dimana kejayaannya berakhir dengan berkuasanya rezim Attaturk. Hal ini menjadikan Turki yang dikenal sebagai negara strategis dan menjadi salah satu role model peradaban Islam berubah menjadi negara yang mulai meliberalkan negara islam. Melalui beberapa penghapusan budaya dan nilai. Misalnya dilarang keras muslimah untuk berhijab, isu-isu islamphobia dimunculkan di media sehingga membuat opini publik yang keliru dan beberapa sektor yang dikuasai dsb. Keberjalanannya tentu tak sebentar, tapi berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga untuk memulihkannya pun, tidak butuh waktu yang sedikit.
            Turki pada masa lalu tentu adalah sebagian kecil problematika ummat Islam di dunia. Tapi pada peristiwa tersebut ada hikmah yang harus dijadikan pelajaran bagi semuanya. Yaitu Islam harus berkuasa dalam setiap sektor, hal ini karena Islam adalah agama yang kaffah (menyeluruh), dan pemahaman ini tidak hanya berakhir pada pemikiran saja, tapi amal yang kemudian ditularkan dan mengajak kepada yang lainnya. Fastabiqul khairat. Salah satunya melalui kajian-kajian. Disadari atau tidak, kajian-kajian keislaman ini akan membantu ummat untuk terus beramal baik dan mengajak pada kebaikan. Sebuah pribahasa mengatakan bahwa “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu menembus beribu-ribu kepala”.


0 comments:

Post a Comment