Oleh : Ajeng P Hanifah
Akhir zaman ini,
ditengah berbagai macam problema ummat yang ada, ada sebuah fenomena yang
sangat menyejukan hati dan membangkitkan optimisme diri bahwa Islam akan
kembali bangkit, yaitu sedang ngtrennya anak-anak muda yang senang dengan hadir
ke kajian-kajian ilmu. Seolah kembali membangunkan singa yang tertidur. Hal ini
menjadi sebuah tren yang positif dan patut untuk ditiru. Dibandingkan dengan
tren-tren yang sebenarnya menjauhkan para generasi pada Allah SWT. Era ini
adalah era yang harus disadari dan menjadi tren bagi semua kalangan, dan ini
tengah di gencarkan di kalangan para artis. Sebut saja Teuku Wisnu dkk salah
satunya.
Terlepas dari
gerakan apapun, entah tarbiyah, salafi, jama’ah tabligh dsb, budaya ini adalah
budaya yang sudah lama ditinggalkan ummat. Saya baru menyadari, bahwa menjadi
sosok Public Figure (bukan hanya kalangan artis) adalah peran strategis
yang dapat melipat gandakan sebuah tindakan. Dalam hal ini, kebaikkan, tentu
akan mendatangkan pahala yang begitu besar manakala apa yang dilakukannya
mengingatkan dan mengajak pada kebaikan, dakwah. Semakin hari semakin banyak
sosok-sosok yang disadarkan dan mulai memviralkan kegiatan positif ini.
Misalnya baru-baru adalah keputusan Fenita Arie (istri dari komedian Arie
Untung) yang memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai pembawa acara
infotaiment juga memutuskan untuk mengenakan hijab. Tak kalah viralnya yaitu Kartika
Putri yang sebelum hijrahnya dikenal dengan sosok yang berpenampilan cukup
“berani” yang juga memutuskan berhijrah dengan tekad yang kuat, sampai-sampai
menghapus semua fotonya yang belum hijrah di dunia maya, bahkan hingga meminta
tolong kepada para fansnya untuk membantu menghapus foto-foto tersebut.
Selain itu, mulai
banyak kembalinya ustadz-ustadz yang gencar dengan gerakan untuk memahamkan
ummat. Misalnya K.H. Abdullah Gymnastiar (Aagym) dengan keahlian dalam ilmu
ke-Tauhidan, Ustadz Abdul Somad dengan keahlian public speakingnya yang
mudah diterima dan viral di media sosial karena dibumbui dengan sikap humoris,
Ustadz Hanan Attaki dengan tren anak muda yang gaul tapi tetap syar’i melalui
gerakan Pemuda Hijrah yang sangat viral dikalangan para pemuda, juga Ustadz
Evie Effendi dengan kemahirannya dalam berbahasa Sunda yang mampu menjadi sosok
humoris karena nasihat-nasihatnya yang sederhana tapi ngena juga sosok anak
motor yang bertaubat. Keberagaman tersebut hadir bukan untuk diperdebatkan
apalagi mengkotak-kotakan, justru hal tersebut hadir agar warna dari setiap
karakteristik guru bisa kita kenali dengan baik juga segmentasi peserta yang
berbeda yang mampu memberikan ruang untuk memilih sesuai dengan gayanya
masing-masing. Paling mendasar dan penting adalah semua mengajarkan ummat untuk
kembali menjadi muslim yang kaffah dan menyambut era akhir zaman yang semakin
dekat ini.
Belajar pada
sejarah Turki, khilafah terakhir yang berjaya disana ialah masa Ustmani. Dimana
kejayaannya berakhir dengan berkuasanya rezim Attaturk. Hal ini menjadikan
Turki yang dikenal sebagai negara strategis dan menjadi salah satu role
model peradaban Islam berubah menjadi negara yang mulai meliberalkan negara
islam. Melalui beberapa penghapusan budaya dan nilai. Misalnya dilarang keras
muslimah untuk berhijab, isu-isu islamphobia dimunculkan di media sehingga
membuat opini publik yang keliru dan beberapa sektor yang dikuasai dsb.
Keberjalanannya tentu tak sebentar, tapi berlangsung hingga bertahun-tahun
lamanya. Sehingga untuk memulihkannya pun, tidak butuh waktu yang sedikit.
Turki pada masa lalu
tentu adalah sebagian kecil problematika ummat Islam di dunia. Tapi pada
peristiwa tersebut ada hikmah yang harus dijadikan pelajaran bagi semuanya.
Yaitu Islam harus berkuasa dalam setiap sektor, hal ini karena Islam adalah
agama yang kaffah (menyeluruh), dan pemahaman ini tidak hanya berakhir pada
pemikiran saja, tapi amal yang kemudian ditularkan dan mengajak kepada yang
lainnya. Fastabiqul khairat. Salah satunya melalui kajian-kajian.
Disadari atau tidak, kajian-kajian keislaman ini akan membantu ummat untuk
terus beramal baik dan mengajak pada kebaikan. Sebuah pribahasa mengatakan
bahwa “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu
menembus beribu-ribu kepala”.
