Friday, March 9, 2018

Ga Gaul kalo Ga Ngaji


Oleh : Ajeng P Hanifah 
            Akhir zaman ini, ditengah berbagai macam problema ummat yang ada, ada sebuah fenomena yang sangat menyejukan hati dan membangkitkan optimisme diri bahwa Islam akan kembali bangkit, yaitu sedang ngtrennya anak-anak muda yang senang dengan hadir ke kajian-kajian ilmu. Seolah kembali membangunkan singa yang tertidur. Hal ini menjadi sebuah tren yang positif dan patut untuk ditiru. Dibandingkan dengan tren-tren yang sebenarnya menjauhkan para generasi pada Allah SWT. Era ini adalah era yang harus disadari dan menjadi tren bagi semua kalangan, dan ini tengah di gencarkan di kalangan para artis. Sebut saja Teuku Wisnu dkk salah satunya.
            Terlepas dari gerakan apapun, entah tarbiyah, salafi, jama’ah tabligh dsb, budaya ini adalah budaya yang sudah lama ditinggalkan ummat. Saya baru menyadari, bahwa menjadi sosok Public Figure (bukan hanya kalangan artis) adalah peran strategis yang dapat melipat gandakan sebuah tindakan. Dalam hal ini, kebaikkan, tentu akan mendatangkan pahala yang begitu besar manakala apa yang dilakukannya mengingatkan dan mengajak pada kebaikan, dakwah. Semakin hari semakin banyak sosok-sosok yang disadarkan dan mulai memviralkan kegiatan positif ini. Misalnya baru-baru adalah keputusan Fenita Arie (istri dari komedian Arie Untung) yang memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai pembawa acara infotaiment juga memutuskan untuk mengenakan hijab. Tak kalah viralnya yaitu Kartika Putri yang sebelum hijrahnya dikenal dengan sosok yang berpenampilan cukup “berani” yang juga memutuskan berhijrah dengan tekad yang kuat, sampai-sampai menghapus semua fotonya yang belum hijrah di dunia maya, bahkan hingga meminta tolong kepada para fansnya untuk membantu menghapus foto-foto tersebut.
            Selain itu, mulai banyak kembalinya ustadz-ustadz yang gencar dengan gerakan untuk memahamkan ummat. Misalnya K.H. Abdullah Gymnastiar (Aagym) dengan keahlian dalam ilmu ke-Tauhidan, Ustadz Abdul Somad dengan keahlian public speakingnya yang mudah diterima dan viral di media sosial karena dibumbui dengan sikap humoris, Ustadz Hanan Attaki dengan tren anak muda yang gaul tapi tetap syar’i melalui gerakan Pemuda Hijrah yang sangat viral dikalangan para pemuda, juga Ustadz Evie Effendi dengan kemahirannya dalam berbahasa Sunda yang mampu menjadi sosok humoris karena nasihat-nasihatnya yang sederhana tapi ngena juga sosok anak motor yang bertaubat. Keberagaman tersebut hadir bukan untuk diperdebatkan apalagi mengkotak-kotakan, justru hal tersebut hadir agar warna dari setiap karakteristik guru bisa kita kenali dengan baik juga segmentasi peserta yang berbeda yang mampu memberikan ruang untuk memilih sesuai dengan gayanya masing-masing. Paling mendasar dan penting adalah semua mengajarkan ummat untuk kembali menjadi muslim yang kaffah dan menyambut era akhir zaman yang semakin dekat ini.
            Belajar pada sejarah Turki, khilafah terakhir yang berjaya disana ialah masa Ustmani. Dimana kejayaannya berakhir dengan berkuasanya rezim Attaturk. Hal ini menjadikan Turki yang dikenal sebagai negara strategis dan menjadi salah satu role model peradaban Islam berubah menjadi negara yang mulai meliberalkan negara islam. Melalui beberapa penghapusan budaya dan nilai. Misalnya dilarang keras muslimah untuk berhijab, isu-isu islamphobia dimunculkan di media sehingga membuat opini publik yang keliru dan beberapa sektor yang dikuasai dsb. Keberjalanannya tentu tak sebentar, tapi berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya. Sehingga untuk memulihkannya pun, tidak butuh waktu yang sedikit.
            Turki pada masa lalu tentu adalah sebagian kecil problematika ummat Islam di dunia. Tapi pada peristiwa tersebut ada hikmah yang harus dijadikan pelajaran bagi semuanya. Yaitu Islam harus berkuasa dalam setiap sektor, hal ini karena Islam adalah agama yang kaffah (menyeluruh), dan pemahaman ini tidak hanya berakhir pada pemikiran saja, tapi amal yang kemudian ditularkan dan mengajak kepada yang lainnya. Fastabiqul khairat. Salah satunya melalui kajian-kajian. Disadari atau tidak, kajian-kajian keislaman ini akan membantu ummat untuk terus beramal baik dan mengajak pada kebaikan. Sebuah pribahasa mengatakan bahwa “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu menembus beribu-ribu kepala”.


Friday, April 17, 2015

Kepribadian Seorang Leadpreneur

      Kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang Leadpreneur dapat dikelompokkan ke dalam akronim SUCCEED, yaitu Self-confident, Utilize, Cashflow, Spirit, Charismatic, Energetic, Empathetic, dan Drive.
      Seorang Leadpreneur harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi (Self-confident). Ia harus mengenali dirinya sendiri serta yakin akan pengetahuan, keterampilan, serta visi yang dimilikinya dalam rangka membantu mewujudkan cita-cita dirinya dan juga organisasi. Kepercayaan diri ini harus ditunjukkan terutama pada saat pengambilan keputusan. Tidak jarang seorang Leadpreneur sebagai pemimpin harus membuat keputusan dalam waktu cepat berdasarkan informasi yang tidak sempurna guna mengajar momentum. Jadi, keputusan yang diambil merupakan gabungan antara informasi yang relatif tidak lengkap dengan intuisi. Agar dapat melakukan hal ini, maka seorang pemimpin juga harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini menjadi penting karena meskipun seorang pemimpin memang harus mendengarkan semua informasi, saran, serta pemikiran yang ada, namun tidak boleh membiarkan semuanya menggantung. Ia harus membuat keputusan dengan sebuah beban mental bahwa kalau nanti keputusannya salah ia akan ikut dipersalahkan. Jangan sampai terjadi seorang pemimpin tidak berani mengambil keputusan karena khawatair dengan risiko yang dihadapi.
      Seorang Leadpreneur harus pula membekali dirinya dengan kemampuan memanfaatkan (Utilize) secara optimal segala potensi serta sumber daya yang dimiliki, seperti kekuatan pribadi, sumber daya manusia, finansial, infrastruktur, dan sebagainya demi tercapainya visi, misi, tujuan, serta sasaran perusahaan.
      Cashflow Spirit berarti seorang Leadpreneur harus mengoptimalkan usahanya guna menghasilkan arus kas yang maksimal, bukan hanya mengejar laba semata. Arus kas dalam jumlah yang memadai sangat penting guna membiayai kelancaran aktivitas operasional dan investasi perusahaan.
      Biasanya seorang Leadpreneur adalah seorang yang karismatik (Charismatic), yang dapat “mempesona” orang lain. Hal ini bukan berarti seorang Leadpreneur identik dengan kemampuannya untuk berbicara dengan berapi-api. Pemimpin yang efektif tidaklah dapat diukur dari kepiawannya berorasi. Yang jauh lebih penting adalah kepemimpinan melalui kesederhanaan dan kerendahan hati serta pola pikir yang dianutnya, bukan dari segala bentuk atribut lain yang disandangnya. Secara umum pemimpin biasanya lebih dikenal karena inspirasi yang ditelurkan dari prinsip-prinsip hidup yanh dijalani.memang tidak mudah bagi seorang Leadpreneur untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin ideal. Tetapi ia selalu berusaha untuk melakukannya dengan baik, sehingga akan membantunya tumbuh menjadi pemimpin yang tangguh dan berkarakter.
      Di samping karisma, Leadpreneur adalah seseorang yang antusias, selalu penuh dengan semangat setiap kali melakukan sebuah pekerjaan serta memiliki stamina (Energetic). Ia harus menjadi sumber energi bagi karyawan yang dipimpinnya.
      Bagian dari SUCCEED berikutnya adalah Emphatic. Emphatic berarti kemampuan mengidentifikasi serta memahami situasi, perasaan, serta motif yang dimiliki oleh orang lain. Untuk itulah seorang Leadpreneur harus menjadi pendengar yang baik bagi para pengikutnya. Para pengikut ini harus dibesarkan hatinya. Kepala mereka yang tertunduk harus ditegakkan guna menumbuhkan perasaan optimis, dan semangat yang positif harus dipompakan sehingga para pengikutnya tidak larut dalam kesedihan akibat kesulitan dan kegagalan yang menimpa.
      Jika pemimpin saja tidak mempunyai spirit yang tinggi, tidak punya optimisme yang tinggi, bagaimana bisa dia bisa memberi semangat kepada orang lain? Dan keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh bagaimana dia menularkan semangat itu kepada pengikutnya.

      Terakhir adalah Drive, yakni kemampuan menggerakkan orang lain untuk secara bersama-sama berjuang mewujudkan mimpi serta mencapai tujuan organisasi. Seorang Leadpreneur harus mampu menggerakkan orang lain agar mereka melakukan hal-hal yang tidak diwajibkan sekalipun dengan penuh semangat. Bukan karakter seorang penguasa yang memaksa orang lain melakukan sesuatu dengan menebarkan ketakutan. Bila seorang pemimpin didukung oleh pengikut yang memiliki daya juang serta dedikasi yang tinggi, maka kemungkinan besar ia dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Pemimpin yang baik selalu berupaya membantu orang yang belum mampu bekerja menjadi orang yang mampu bekerja dengan baik. Atau bahkan membantu yang sebelumnya sudah bekerja dengan baik, menjadi orang yang mampu bekerja lebih baik lagi. Keberhasilan seorang pemimpin memimpin orang lain, tidak bisa lepas dari keberhasilannya memimpin dirinya sendiri sehingga orang-orang yang dipimpinnya pun dapat diandalkan dan tetap mengikutinya hingga kapan pun dan dalam situasi apa pun.

Sumber: Susanto, A. B.. 2009. Leaderpreneurship dalam Kewirausahaan. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Friday, August 8, 2014

Sang Entrepreneur


“Banyak orang berpikir salah mengenai apa itu kebahagiaa sejati. Hal itu tidak tercapai melalui kepuasan diri sendiri, melainkan melaui kesetiaan kepuasaan terhadap tujuan yang berharga”.
-Hellen Keller-

            Beberapa tahun terakhir entrepreneurship benar-benar menjamur. Buku-buku bertemakan entrepreneur membludak di toko buku. Seminar dan training yang menawarkan kesuksesan bisnis membludak di seluruh kota. Kompetisi dan perlombaan bagi pengusaha muda makin sering diadakan. Bahkan beberapa kampus tak mau ketinggalan mulai memasukkan mata kuliah kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib.
            Tentu ini sebuah perkembangan menarik dan patut disyukuri. Jika dulu menjadi karyawan adalah dambaan para anak muda, sekarang justru sebaliknya, anak muda sedang berlomba-lomba merintis usahanya masing-masing. Ketika ditanya apa rencananya setelah lulus kuliah, para mahasiswa sudah tidak lagi canggung untuk menjawab, “Ingin menjadi entrepreneur”. Sebuah jawaban yang kini dirasa lebih keren dan sangat membanggakan.
            Dalam islam sendiri entrepreneurship sangat dianjurkan. Jauh sebelum Robert Kiyosaki mengemukakan Qashflow Quadrant-nya, Rasulullah belasan abad yang lalu sudah menasihatkan bahwa entrepreneurship sangat layak dijadikan pilihan profesi bagi seorang muslim, Bukan self employee, apalagi employee. Bahkan dengan tegas Rasulullah mewasiatkan bahwa Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada pada perniagaan. Tak hanya itu, sembilan dari sepuluh sahabat Rasulullah yang masuk surge adalah entrepreneur yang andal.
            Banyak yang memutuskan untuk memilih profesi sebagai karyawan bukan karena dorongan jiwa, tapi ketakutan menghadapi risiko dari berwirausaha. Padahal kita tentu menyadari bahwa hidup adalah kumpulan dari risiko-risiko. Ketika sedang mengendarai motor atau mobil di jalan raya, ada risiko kecelakaan. Ketika naik pohon, ada risiko jatuh. Bahkan ketika tiduran di dalam rumah pun kita juga punya risiko tertimbun reruntuhan rumah. Kok bisa? Ya kalau terjadi gempa, angin topan, atau benacana alam yang tak terduga hal itu bukan mustahil untuk terjadi.
            Maka agak kurang tepat jika banyak yang tidak segera memutuskan untuk memulai usaha hanya karena alasan takut menghadapi risiko, takut gagal, takut modalnya habis, takut dimarahi pelanggan, dan ketakutan-ketakutan lain yang belum tentu terjadi. Hidup sebagai entrepreneur memang harus siap dengan banyak risiko. Justru di sanalah menariknya. Risiko bukan hambatan, tapi dianggap sebagai tantangan. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi. Saya kira, hampir semua profesi di muka bumi ini ada risikonya. Bukan hanya pengusaha, karyawan juga punya risiko. Risiko dimarahi atasan, risiko tanggung jawab dan tugas yang kadang berat, bahkan risiko PHK sangat mungkin terjadi.
            Maaf. Bukan maksud untukmencela atau menyepelekan profesi lain, tetapi sekedar mengingatkan bahwa pilihan hidup sebagai entrepreneur adalah salah satu pilihan hidup yang bijak dan patut dihargai. Ada banyak keutamaan yang bisa didapat oleh para pengusaha muslim. Apa saja itu?
            Pertama, yaitu peluang untuk memperluas kontribusi. Kita tentu menyadari tujuan utama penciptaan manusia di muka bumi ini adalah dalam rangka menjadi khalifah fil ardh (wakil Tuhan di  muka bumi). Sebuah mandate dan amanah yang cukup besar tentunya. Manusia dicipta untuk memakmurkan bumi. Ketika seseorang hidup hanya untuk memakmurkan diri sendiri, maka ia dinilai gagal dalam hidup. Apalagi sudah tidak memberi manfaat, malah membuat orang lain menjadi susah hidupnya, tentu ini lebih celaka lagi. Itulah sebabnya Rasulullah samai menempatkan orang yang banyak kontribusinya bagi sesama di tempat yang sedemikian tinggi. Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.
            Itulah salah satu niat baik yang seharusnya ada dalam hati semua entrepreneur, yakni bagaiaman agar dengan usahan yang kita rintis ini nantinya bisa memberi kontribusi terbaik bagi umat. Menurut Ippho Santosa, entrepreneur itu walau belum bisa merekrut karyawan, pada hakikatnya dia sudah membuka lapangan kerja, minimal untuk satu orang. Yaitu dirinya sendiri. Apalagi jika usaha sudah membesar, maka konstitusi yang diberikan juga semakin besar. Karyawan yang dipekerjakan membesar, pengangguran menyempit, dan hasil usaha kita bisa dimanfaatkan untuk kebaikkan.
            Itu keuntungan pertama. Keuntungan berikutnya dari pilihan hidup sebagai entrepreneur yaitu peluang untuk lebih menghargai waktu. Tahulah kita bahwa waktu pada hakikatnya adalah umur kita. Apabila kita menggunakan waktu untuk hal yang sia-sia, itu berarti kita sedang menyia-nyiakan umur kita. Begitu pun sebaliknya, ketika kita menggunakan waktu kita dengan produktif, pada hakikatnya kita sedang membuat usia kita produktif.
            Nah, salah satu ikhtiar untuk mengefektifkan waktu menurut hemat saya adalah dengan menjadi pengusaha. Mengapa? Pertama, ketika kita baru merintis usaha, hampir seluruh waktu kita tercurah pada usaha itu. Tidak ada waktu santai, yang ada adalah kerja keras dan terus belajar. Baru merintis tapi sudah “berani” menggunakan waktu untuk bersantai, maka ia sedang bersiap untuk tidak berhasil.
            Tak hanya itu, ketika seorang wirausahawan telah berhasil membesarkan bisnisnya sehingga tanpa kehadirannya bisnis itu sudah bisa berjalan, waktunya bisa tercurahkan sebaik mungkin untuk hal lain. Bill Gates misalnya yang kini lebih banyak mengurus yayasan sosialnya ketimbang Microsoft-nya. Penghargaan terhadap waktu bisa benar-benar dijalankan.
            Keuntungan ketiga yakni mengikuti wasiat Rasul. Empat belas abad silam Rasulullah sudah menasihatkan kalau sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perniagaan. Itu adalah pemberitahuan Rasul yang segala ilmunya bersumber dari Yang Mahatahu. Dan yang lebih penting lagi, wirausahawan adalah manusia merdeka. Saya pernaah menuturkan dalam buku, “Saudagar Langit” bahwa wirausahawan tidak punya atasan. Jadi kalau lagi pengen kerja ya kerja. Kalau ada aktivitas yang lain ya boleh saja. Tidak ada yang memarahi. Nggak ada bos yang ngomel-ngomel. Kecuali dimarahi relasi atau pelanggan, itu lain ceritanya. Betapa hebat Anda, jika hanya Allah dan diri Anda sendirilah yang menentukan nasib usaha Anda. Bukan atasan, bukan CEO, bukan bos. Tentu Anda akan bebas mengendalikan dan mengembangkan kreativitas Anda, tanpa dibatasi oleh orang lain.
            Salim A. Fillah pernah menegaskan, mengapa investasi, harus menjadi aktivitas bagi seorang mukmin, yakni agar menghargai waktu dan kerja keras, agar mengerti apa itu risiko, agar berjiwa merdeka, agar menghargai silaturahim. Agar berwawasan luas, agar cerdas mengelola anggaran, agar bisa belajar kepemimpinan, agar dapat merasakan indahnya sedekah, agar lebih peka untuk bersyukur dan bersabar, serta agar merasakan nikmatnya memberi kemanfaatan bagi orang lain.
            Sedangkan Imam Hasan Al-Banna pernah bertutur, “Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi betapa pun kayanya engkau, utamakan proyek mandiri betapa pun kecilnya, dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu betapa pun tingginya kapasitas keilmuanmu. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sesempit-sempit pintu rezeki”. Jangan ngambek. Bukan saya lho yang bilang.
            Pertanyaan terakhir, siap jadi entrepreneur? Lebih lengkapnya, telah saya kupas dengan detail dalam buku Saudagar Langit: Membongkar 5 Kunci Kesuksesan Bisnis Manusia-Manusia Langit.

Sumber:
Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati (Ahmad Rifa’I Ri’fan) : Sang Entrepreneur

Monday, June 23, 2014

Hakmu dari Ku

            Seperti di posting sebelumnya, bahwa hidup kita di dunia ini hanya untuk “Singgah” sementara, mencari bekal dan tiket untuk di Syurga nanti. Dunia ini fana, tak lama. Hanya beberapa jam saja jika dibandingkan dengan kampung akhirat. Pernah kah berfikir, jika dunia ini saja hanya sebentar, apalagi dengan umur kita?
            Adikku, kini engkau sudah menginjak masa dewasa. Sudah saatnya engkau menetapkan kendaraan yang akan kau pakai untuk melalui perjalanan hidup ini. Kini, sudah bukan saatnya lagi kau mencari, memilih-milih apalagi mencoba-coba kendaraan yang akan kau pakai. Tapi, sudah saatnya kau tentukan yang mana kendaraan yang akan kau pilih, bahan bakarnya berapa banyak, bekalnya apa saja, siapa saja yang mengendarainya, petanya ke arah mana dll.
            Masamu kini masa dimana perjalanan yang sesungguhnya telah dimulai. Ku yakin, bahwa saat ini sebenarnya engkau telah memiliki pilihan mana yang akan kau pilih. Namun di hati mu, masih saja ada keraguan yang mengganjal, ketidak percayaan akan pilihan atau bahkan masilh ada pengaruh-pengaruh lain yang sebenarnya itu hanya ujian saja bagi dirimu. Percayalah adikku, bahwa hati mu yang terdalam adalah sebaik-baik jawaban. Hatimu tak pernah bohong, jangan sampai kau terhasut oleh keraguan mu yang tak ada apa-apanya.
            Ku tau engkau bingung mana yang harus kau pilih. Tetapi bukankah kau memiliki Sang Pemberi Rahmat? Bukankah Ia adalah pencipta mu? Mengapa tidak kau meminta jawaban pada-Nya jika kau benar-benar bingung? Mengapa kau masih mengharapkan jawaban “makhluk” yang tidak ada apa-apanya, lemah, tak memiliki kekuatan apapun? Sudahlah, akhiri saja pengharapan yang berlebihan pada makhluk, karena diriku pun pernah merasakannya. Bahwa berharap lebih pada makhluk itu hanya akan menimbulkan kekecewaan, ketidak puasan dan sia-sia saja. Seperti membuang waktumu yang singkat di dunia ini. Naudzubillah..

Ini bukan apa-apa, tidak ada apa-apanya. Ini hanya sebagai pengingat untuk semuanya atau sekedar penyindir saja atau mungkin hanya bacaan saja ketika ada waktu luang. Ingat, tak ada yang sia-sia ketika kita menghabiskan waktu pada kegiatan yang positif menurut Alloh SWT. Karena salah satu hak muslim dari saudaranya yaitu, saling mengingatkan dalam kebaikan juga menasehati satu sama lainnya. Wallohu alam..

Saturday, June 21, 2014

Karena Mereka, Begitu Berharga

Berapa banyak tetesan keringat yg dikeluarkan org tua utk anakny ya?
Atau berapa banyak kesakitan & perjuangan yg diterima & dilalui oleh org tua utk membahagiakan anaknya ya?
Dulu, ketika ad mabim organisasi d jurusan maru disuruh berjualan d CFD Dago, termasuk saya. Trus saya dkk menjual suatu brg tertentu.
Dan setelah selesai, hanya ad 1 hal dalam pikiran saya. Tau apa? Orang tua..
Saya rasa ini hikmah yg saya dapat dan paling ngena sampai sekarang. Terpikir di kepala, terukir di hati.
Yaitu, berapa lama org tua harus bekerja hanya utk mendapatkan rupiah demi kehidupan keluarga >> terutama anaknya << ?
Berapa tetes keringat yg dikeluarkan oleh tubuh mereka utk bekerja dan berusaha?
Berapa lama mereka harus melangkah, berjalan dan bersabar dlm bekerja? Apalgi dlm cuaca yg "ekstrim"
Belum lagi, suasana hati, fikiran dan fisik yg berbeda-beda setiap harinya. Harus menahan ngantuk, lapar, haus dll.
Juga penerimaan org itu akan berbeda-beda terhadap apa yg mereka kerjakan. Pengorbanan yg besar.
Maha Besar Alloh SWT dgn segala kuasa-Nya, rencana-Nya dan ke Maha"an-Nya, yg telah memberikan, mengkaruniakan, menitipkan mereka.
Mereka, 2 sosok makhluk, yg tak akan pernah terganti kedudukan utamanya dlm hati, hati yg terdalam, tak tersentuh oleh yg lain sedikitpun.
Yaitu, mereka yg melahirkan, mengajari, menghidupi, menyayangi, membimbing dll dlm kehidupan utk duniawi, apalagi akhirat.
Dan, mereka sering disebut oleh orang-orang yaitu Orang Tua. Tapi, saya lebih mengenal mereka, Papah dan Mamah. Malaikat" dr Syurga. :)

Balasan terbaik dan paling pantas ialah >> Syurga Firdaus. Paling tinggi diantara Syurga" yg lainny.

Sunday, June 15, 2014

Temu Sahabat

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kau dustakan?” mungkin itulah sepenggal makna yang mengawali cerita hari ini.
Sahabat adalah siapa saja yang dekat denganmu, baik secara pemikiran atau hati. Yang mana, mereka hadir untuk kita dikala apapun juga, sedih, susah, senang, gembira dll. Sahabat adalah salah satu pelengkap dalam kehidupan juga sebagai pemberi warna dalam setiap perjalan kita juga cerita-cerita dalam hidup kita.
Mungkin, bisa jadi sahabatmu adalah gambaran dari dirimu. Itulah salah satu pepatah yang selalu saya ingat mengenai sahabat.
Hari ini, Alhamdulillah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang sudah berhubungan selama 7 tahun lamanya. Sahabat-sahabat ini dipertemukan pertama kali oleh Alloh di SMP Negeri 1 Cihaurbeuti.
Sahabat-sahabat ini terdiri dari 4 orang. Raima, Ine, Yuna dan Dinda. Kami bersahabat semenjak kelas 7 di SMP. Banyak cerita mengenai kami, dari cerita yang biasa-biasa saja, sampai yang luar biasaaa..
Alhasil, setelah beberapa bulan lamanya tidak bertemu, tadi kami bertemu dengan personil yang komplit. Memang, terlihat beberapa perubahan dari masing-masing sahabat saya, begitupun dengan saya sendiri. Ada yang semakin dewasa, ada yang tetap galau saja, ada yang makin cantik dandannannya, ada juga yang biasa-biasa saja (saya) hehe.
Memang, tidak mudah untuk tetap menjalin persahabatan ini, apalagi masing-masing dari kami memiliki kesibukan masing-masing. Tak hanya itu, jarak pun sebenarnya salah satu faktor yang menjadi tantangan dalam persahabatan ini. Tapi Alhamdulillah, hingga saat ini kami masih baik-baik saja.
Mungkin, dari setiap kita memang berbeda, dan itulah tujuan persahabatan ini, utuk melengkapi satu sama lain. Dahulu kita memulai semuanya dari 0, dan sekarang kita juga sudah memilih masing-masing jalan kita. Percayalah, tidak ada jalan yang tidak ada tantangannya. Mungkin ada yang merasa berat dengan cobaan yang diterima, tapi percayalah sahabat, tak ada masalah tanpa solusi dan tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan.
Semoga, setiap do’a kita ada terselip nama-nama untuk persahabatan kita. Semoga persahabatan ini sampai di Surga-Nya, dan dapat menjadi penambah kebaikan untuk kita. Aaamiin Yaa Rabb..

Tuesday, June 3, 2014

Dream

Mimpi adalah sesuatu yang tidak pernah kau lepas dari genggamanmu. Itulah kata-kata yang masih terkiang saat ini tak kala saya sudah menonton sebuah drama korea yang berjudul Dream High. Drama ini berkisahkan tentang 6 pelajar yang ingin meraih mimpinya dengan jalan dan cara mereka masing-masing. Begitupun dengan latar belakang dari masing-masing pelajar berbeda. Karakter yang paling saya sukai yaitu Sam Dong.
Alasan mengapa saya menyukai karakter Sam Dong karena dia begitu gigih akan apa yang diinginkannya dengan cara berusaha yang sangat optimal, sehingga pada akhirnya diantara pelajar yang lain, dialah yang dianggap paling berhasil karena dia bisa menembus dunia internasional sesuai dengan apa yang dia inginkan. Walaupun di tengah perjalanan, dia mengalami beberapa kali jatuh, tapi pada akhirnya dia bangkit lagi hingga mendapatkan impiannya. Dan dibalik itu, dia pun harus membayar keberhasilannya dengan kesendirian, kesepian dan kesunyian yang ia hadapi ketika maju satu demi satu menghampiri mimpinya.
Menyinggung tentang mimpi atau impian setelah saya menonton drama tersebut beberapa kali, saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, sebenarnya apa yang kamu impikan dalam hidup ini? Mimpi apa yang ingin kau raih saat ini dan di masa yang akan datang? Pertanyaan-pertanyaan ini seolah terus membayangi saya. Dan saya pun sebenarnya ingin sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Temam, pernahkah anda mengalami apa yang saya alami? Bertanya tentang mimpi dan impian yang ingin anda raih? Tidakkah kita dalam hidup ini memiliki sesuatu yang ingin dicapai?
Saya berpendapat, bahwa impian atau mimpi sama dengan visi. Visi adalah sesuatu yang ingin kita capai, baik dalam jangka pendek ataupun dalam jangka panjang. Dalam mencapai tujuan tersebut, tentu tidaklah mudah dan penuh dengan rintangan. Sebenarnya saya lebih merasakan rintangan yang paling berat itu yang datang dari diri saya. Ketidak percayaan terhadap kemampuan, rasa malas atau ketidak mampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu (terutama makan dan jajan) hehe..
Mimpi, saya rasa setiap orang pasti memiliki mimpi yang berbeda-beda. Mimpi itu pasti yang membuat motivasi hingga saat ini bertahan.

Semoga saya dan anda dapat mewujudkan mimpi, meraih mimpi dan mendekat pada mimpi hingga mimpi itu ada dalam genggaman..