Friday, August 8, 2014

Sang Entrepreneur


“Banyak orang berpikir salah mengenai apa itu kebahagiaa sejati. Hal itu tidak tercapai melalui kepuasan diri sendiri, melainkan melaui kesetiaan kepuasaan terhadap tujuan yang berharga”.
-Hellen Keller-

            Beberapa tahun terakhir entrepreneurship benar-benar menjamur. Buku-buku bertemakan entrepreneur membludak di toko buku. Seminar dan training yang menawarkan kesuksesan bisnis membludak di seluruh kota. Kompetisi dan perlombaan bagi pengusaha muda makin sering diadakan. Bahkan beberapa kampus tak mau ketinggalan mulai memasukkan mata kuliah kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib.
            Tentu ini sebuah perkembangan menarik dan patut disyukuri. Jika dulu menjadi karyawan adalah dambaan para anak muda, sekarang justru sebaliknya, anak muda sedang berlomba-lomba merintis usahanya masing-masing. Ketika ditanya apa rencananya setelah lulus kuliah, para mahasiswa sudah tidak lagi canggung untuk menjawab, “Ingin menjadi entrepreneur”. Sebuah jawaban yang kini dirasa lebih keren dan sangat membanggakan.
            Dalam islam sendiri entrepreneurship sangat dianjurkan. Jauh sebelum Robert Kiyosaki mengemukakan Qashflow Quadrant-nya, Rasulullah belasan abad yang lalu sudah menasihatkan bahwa entrepreneurship sangat layak dijadikan pilihan profesi bagi seorang muslim, Bukan self employee, apalagi employee. Bahkan dengan tegas Rasulullah mewasiatkan bahwa Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada pada perniagaan. Tak hanya itu, sembilan dari sepuluh sahabat Rasulullah yang masuk surge adalah entrepreneur yang andal.
            Banyak yang memutuskan untuk memilih profesi sebagai karyawan bukan karena dorongan jiwa, tapi ketakutan menghadapi risiko dari berwirausaha. Padahal kita tentu menyadari bahwa hidup adalah kumpulan dari risiko-risiko. Ketika sedang mengendarai motor atau mobil di jalan raya, ada risiko kecelakaan. Ketika naik pohon, ada risiko jatuh. Bahkan ketika tiduran di dalam rumah pun kita juga punya risiko tertimbun reruntuhan rumah. Kok bisa? Ya kalau terjadi gempa, angin topan, atau benacana alam yang tak terduga hal itu bukan mustahil untuk terjadi.
            Maka agak kurang tepat jika banyak yang tidak segera memutuskan untuk memulai usaha hanya karena alasan takut menghadapi risiko, takut gagal, takut modalnya habis, takut dimarahi pelanggan, dan ketakutan-ketakutan lain yang belum tentu terjadi. Hidup sebagai entrepreneur memang harus siap dengan banyak risiko. Justru di sanalah menariknya. Risiko bukan hambatan, tapi dianggap sebagai tantangan. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi. Saya kira, hampir semua profesi di muka bumi ini ada risikonya. Bukan hanya pengusaha, karyawan juga punya risiko. Risiko dimarahi atasan, risiko tanggung jawab dan tugas yang kadang berat, bahkan risiko PHK sangat mungkin terjadi.
            Maaf. Bukan maksud untukmencela atau menyepelekan profesi lain, tetapi sekedar mengingatkan bahwa pilihan hidup sebagai entrepreneur adalah salah satu pilihan hidup yang bijak dan patut dihargai. Ada banyak keutamaan yang bisa didapat oleh para pengusaha muslim. Apa saja itu?
            Pertama, yaitu peluang untuk memperluas kontribusi. Kita tentu menyadari tujuan utama penciptaan manusia di muka bumi ini adalah dalam rangka menjadi khalifah fil ardh (wakil Tuhan di  muka bumi). Sebuah mandate dan amanah yang cukup besar tentunya. Manusia dicipta untuk memakmurkan bumi. Ketika seseorang hidup hanya untuk memakmurkan diri sendiri, maka ia dinilai gagal dalam hidup. Apalagi sudah tidak memberi manfaat, malah membuat orang lain menjadi susah hidupnya, tentu ini lebih celaka lagi. Itulah sebabnya Rasulullah samai menempatkan orang yang banyak kontribusinya bagi sesama di tempat yang sedemikian tinggi. Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.
            Itulah salah satu niat baik yang seharusnya ada dalam hati semua entrepreneur, yakni bagaiaman agar dengan usahan yang kita rintis ini nantinya bisa memberi kontribusi terbaik bagi umat. Menurut Ippho Santosa, entrepreneur itu walau belum bisa merekrut karyawan, pada hakikatnya dia sudah membuka lapangan kerja, minimal untuk satu orang. Yaitu dirinya sendiri. Apalagi jika usaha sudah membesar, maka konstitusi yang diberikan juga semakin besar. Karyawan yang dipekerjakan membesar, pengangguran menyempit, dan hasil usaha kita bisa dimanfaatkan untuk kebaikkan.
            Itu keuntungan pertama. Keuntungan berikutnya dari pilihan hidup sebagai entrepreneur yaitu peluang untuk lebih menghargai waktu. Tahulah kita bahwa waktu pada hakikatnya adalah umur kita. Apabila kita menggunakan waktu untuk hal yang sia-sia, itu berarti kita sedang menyia-nyiakan umur kita. Begitu pun sebaliknya, ketika kita menggunakan waktu kita dengan produktif, pada hakikatnya kita sedang membuat usia kita produktif.
            Nah, salah satu ikhtiar untuk mengefektifkan waktu menurut hemat saya adalah dengan menjadi pengusaha. Mengapa? Pertama, ketika kita baru merintis usaha, hampir seluruh waktu kita tercurah pada usaha itu. Tidak ada waktu santai, yang ada adalah kerja keras dan terus belajar. Baru merintis tapi sudah “berani” menggunakan waktu untuk bersantai, maka ia sedang bersiap untuk tidak berhasil.
            Tak hanya itu, ketika seorang wirausahawan telah berhasil membesarkan bisnisnya sehingga tanpa kehadirannya bisnis itu sudah bisa berjalan, waktunya bisa tercurahkan sebaik mungkin untuk hal lain. Bill Gates misalnya yang kini lebih banyak mengurus yayasan sosialnya ketimbang Microsoft-nya. Penghargaan terhadap waktu bisa benar-benar dijalankan.
            Keuntungan ketiga yakni mengikuti wasiat Rasul. Empat belas abad silam Rasulullah sudah menasihatkan kalau sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perniagaan. Itu adalah pemberitahuan Rasul yang segala ilmunya bersumber dari Yang Mahatahu. Dan yang lebih penting lagi, wirausahawan adalah manusia merdeka. Saya pernaah menuturkan dalam buku, “Saudagar Langit” bahwa wirausahawan tidak punya atasan. Jadi kalau lagi pengen kerja ya kerja. Kalau ada aktivitas yang lain ya boleh saja. Tidak ada yang memarahi. Nggak ada bos yang ngomel-ngomel. Kecuali dimarahi relasi atau pelanggan, itu lain ceritanya. Betapa hebat Anda, jika hanya Allah dan diri Anda sendirilah yang menentukan nasib usaha Anda. Bukan atasan, bukan CEO, bukan bos. Tentu Anda akan bebas mengendalikan dan mengembangkan kreativitas Anda, tanpa dibatasi oleh orang lain.
            Salim A. Fillah pernah menegaskan, mengapa investasi, harus menjadi aktivitas bagi seorang mukmin, yakni agar menghargai waktu dan kerja keras, agar mengerti apa itu risiko, agar berjiwa merdeka, agar menghargai silaturahim. Agar berwawasan luas, agar cerdas mengelola anggaran, agar bisa belajar kepemimpinan, agar dapat merasakan indahnya sedekah, agar lebih peka untuk bersyukur dan bersabar, serta agar merasakan nikmatnya memberi kemanfaatan bagi orang lain.
            Sedangkan Imam Hasan Al-Banna pernah bertutur, “Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi betapa pun kayanya engkau, utamakan proyek mandiri betapa pun kecilnya, dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu betapa pun tingginya kapasitas keilmuanmu. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sesempit-sempit pintu rezeki”. Jangan ngambek. Bukan saya lho yang bilang.
            Pertanyaan terakhir, siap jadi entrepreneur? Lebih lengkapnya, telah saya kupas dengan detail dalam buku Saudagar Langit: Membongkar 5 Kunci Kesuksesan Bisnis Manusia-Manusia Langit.

Sumber:
Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati (Ahmad Rifa’I Ri’fan) : Sang Entrepreneur

Monday, June 23, 2014

Hakmu dari Ku

            Seperti di posting sebelumnya, bahwa hidup kita di dunia ini hanya untuk “Singgah” sementara, mencari bekal dan tiket untuk di Syurga nanti. Dunia ini fana, tak lama. Hanya beberapa jam saja jika dibandingkan dengan kampung akhirat. Pernah kah berfikir, jika dunia ini saja hanya sebentar, apalagi dengan umur kita?
            Adikku, kini engkau sudah menginjak masa dewasa. Sudah saatnya engkau menetapkan kendaraan yang akan kau pakai untuk melalui perjalanan hidup ini. Kini, sudah bukan saatnya lagi kau mencari, memilih-milih apalagi mencoba-coba kendaraan yang akan kau pakai. Tapi, sudah saatnya kau tentukan yang mana kendaraan yang akan kau pilih, bahan bakarnya berapa banyak, bekalnya apa saja, siapa saja yang mengendarainya, petanya ke arah mana dll.
            Masamu kini masa dimana perjalanan yang sesungguhnya telah dimulai. Ku yakin, bahwa saat ini sebenarnya engkau telah memiliki pilihan mana yang akan kau pilih. Namun di hati mu, masih saja ada keraguan yang mengganjal, ketidak percayaan akan pilihan atau bahkan masilh ada pengaruh-pengaruh lain yang sebenarnya itu hanya ujian saja bagi dirimu. Percayalah adikku, bahwa hati mu yang terdalam adalah sebaik-baik jawaban. Hatimu tak pernah bohong, jangan sampai kau terhasut oleh keraguan mu yang tak ada apa-apanya.
            Ku tau engkau bingung mana yang harus kau pilih. Tetapi bukankah kau memiliki Sang Pemberi Rahmat? Bukankah Ia adalah pencipta mu? Mengapa tidak kau meminta jawaban pada-Nya jika kau benar-benar bingung? Mengapa kau masih mengharapkan jawaban “makhluk” yang tidak ada apa-apanya, lemah, tak memiliki kekuatan apapun? Sudahlah, akhiri saja pengharapan yang berlebihan pada makhluk, karena diriku pun pernah merasakannya. Bahwa berharap lebih pada makhluk itu hanya akan menimbulkan kekecewaan, ketidak puasan dan sia-sia saja. Seperti membuang waktumu yang singkat di dunia ini. Naudzubillah..

Ini bukan apa-apa, tidak ada apa-apanya. Ini hanya sebagai pengingat untuk semuanya atau sekedar penyindir saja atau mungkin hanya bacaan saja ketika ada waktu luang. Ingat, tak ada yang sia-sia ketika kita menghabiskan waktu pada kegiatan yang positif menurut Alloh SWT. Karena salah satu hak muslim dari saudaranya yaitu, saling mengingatkan dalam kebaikan juga menasehati satu sama lainnya. Wallohu alam..

Saturday, June 21, 2014

Karena Mereka, Begitu Berharga

Berapa banyak tetesan keringat yg dikeluarkan org tua utk anakny ya?
Atau berapa banyak kesakitan & perjuangan yg diterima & dilalui oleh org tua utk membahagiakan anaknya ya?
Dulu, ketika ad mabim organisasi d jurusan maru disuruh berjualan d CFD Dago, termasuk saya. Trus saya dkk menjual suatu brg tertentu.
Dan setelah selesai, hanya ad 1 hal dalam pikiran saya. Tau apa? Orang tua..
Saya rasa ini hikmah yg saya dapat dan paling ngena sampai sekarang. Terpikir di kepala, terukir di hati.
Yaitu, berapa lama org tua harus bekerja hanya utk mendapatkan rupiah demi kehidupan keluarga >> terutama anaknya << ?
Berapa tetes keringat yg dikeluarkan oleh tubuh mereka utk bekerja dan berusaha?
Berapa lama mereka harus melangkah, berjalan dan bersabar dlm bekerja? Apalgi dlm cuaca yg "ekstrim"
Belum lagi, suasana hati, fikiran dan fisik yg berbeda-beda setiap harinya. Harus menahan ngantuk, lapar, haus dll.
Juga penerimaan org itu akan berbeda-beda terhadap apa yg mereka kerjakan. Pengorbanan yg besar.
Maha Besar Alloh SWT dgn segala kuasa-Nya, rencana-Nya dan ke Maha"an-Nya, yg telah memberikan, mengkaruniakan, menitipkan mereka.
Mereka, 2 sosok makhluk, yg tak akan pernah terganti kedudukan utamanya dlm hati, hati yg terdalam, tak tersentuh oleh yg lain sedikitpun.
Yaitu, mereka yg melahirkan, mengajari, menghidupi, menyayangi, membimbing dll dlm kehidupan utk duniawi, apalagi akhirat.
Dan, mereka sering disebut oleh orang-orang yaitu Orang Tua. Tapi, saya lebih mengenal mereka, Papah dan Mamah. Malaikat" dr Syurga. :)

Balasan terbaik dan paling pantas ialah >> Syurga Firdaus. Paling tinggi diantara Syurga" yg lainny.

Sunday, June 15, 2014

Temu Sahabat

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kau dustakan?” mungkin itulah sepenggal makna yang mengawali cerita hari ini.
Sahabat adalah siapa saja yang dekat denganmu, baik secara pemikiran atau hati. Yang mana, mereka hadir untuk kita dikala apapun juga, sedih, susah, senang, gembira dll. Sahabat adalah salah satu pelengkap dalam kehidupan juga sebagai pemberi warna dalam setiap perjalan kita juga cerita-cerita dalam hidup kita.
Mungkin, bisa jadi sahabatmu adalah gambaran dari dirimu. Itulah salah satu pepatah yang selalu saya ingat mengenai sahabat.
Hari ini, Alhamdulillah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang sudah berhubungan selama 7 tahun lamanya. Sahabat-sahabat ini dipertemukan pertama kali oleh Alloh di SMP Negeri 1 Cihaurbeuti.
Sahabat-sahabat ini terdiri dari 4 orang. Raima, Ine, Yuna dan Dinda. Kami bersahabat semenjak kelas 7 di SMP. Banyak cerita mengenai kami, dari cerita yang biasa-biasa saja, sampai yang luar biasaaa..
Alhasil, setelah beberapa bulan lamanya tidak bertemu, tadi kami bertemu dengan personil yang komplit. Memang, terlihat beberapa perubahan dari masing-masing sahabat saya, begitupun dengan saya sendiri. Ada yang semakin dewasa, ada yang tetap galau saja, ada yang makin cantik dandannannya, ada juga yang biasa-biasa saja (saya) hehe.
Memang, tidak mudah untuk tetap menjalin persahabatan ini, apalagi masing-masing dari kami memiliki kesibukan masing-masing. Tak hanya itu, jarak pun sebenarnya salah satu faktor yang menjadi tantangan dalam persahabatan ini. Tapi Alhamdulillah, hingga saat ini kami masih baik-baik saja.
Mungkin, dari setiap kita memang berbeda, dan itulah tujuan persahabatan ini, utuk melengkapi satu sama lain. Dahulu kita memulai semuanya dari 0, dan sekarang kita juga sudah memilih masing-masing jalan kita. Percayalah, tidak ada jalan yang tidak ada tantangannya. Mungkin ada yang merasa berat dengan cobaan yang diterima, tapi percayalah sahabat, tak ada masalah tanpa solusi dan tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan.
Semoga, setiap do’a kita ada terselip nama-nama untuk persahabatan kita. Semoga persahabatan ini sampai di Surga-Nya, dan dapat menjadi penambah kebaikan untuk kita. Aaamiin Yaa Rabb..

Tuesday, June 3, 2014

Dream

Mimpi adalah sesuatu yang tidak pernah kau lepas dari genggamanmu. Itulah kata-kata yang masih terkiang saat ini tak kala saya sudah menonton sebuah drama korea yang berjudul Dream High. Drama ini berkisahkan tentang 6 pelajar yang ingin meraih mimpinya dengan jalan dan cara mereka masing-masing. Begitupun dengan latar belakang dari masing-masing pelajar berbeda. Karakter yang paling saya sukai yaitu Sam Dong.
Alasan mengapa saya menyukai karakter Sam Dong karena dia begitu gigih akan apa yang diinginkannya dengan cara berusaha yang sangat optimal, sehingga pada akhirnya diantara pelajar yang lain, dialah yang dianggap paling berhasil karena dia bisa menembus dunia internasional sesuai dengan apa yang dia inginkan. Walaupun di tengah perjalanan, dia mengalami beberapa kali jatuh, tapi pada akhirnya dia bangkit lagi hingga mendapatkan impiannya. Dan dibalik itu, dia pun harus membayar keberhasilannya dengan kesendirian, kesepian dan kesunyian yang ia hadapi ketika maju satu demi satu menghampiri mimpinya.
Menyinggung tentang mimpi atau impian setelah saya menonton drama tersebut beberapa kali, saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, sebenarnya apa yang kamu impikan dalam hidup ini? Mimpi apa yang ingin kau raih saat ini dan di masa yang akan datang? Pertanyaan-pertanyaan ini seolah terus membayangi saya. Dan saya pun sebenarnya ingin sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Temam, pernahkah anda mengalami apa yang saya alami? Bertanya tentang mimpi dan impian yang ingin anda raih? Tidakkah kita dalam hidup ini memiliki sesuatu yang ingin dicapai?
Saya berpendapat, bahwa impian atau mimpi sama dengan visi. Visi adalah sesuatu yang ingin kita capai, baik dalam jangka pendek ataupun dalam jangka panjang. Dalam mencapai tujuan tersebut, tentu tidaklah mudah dan penuh dengan rintangan. Sebenarnya saya lebih merasakan rintangan yang paling berat itu yang datang dari diri saya. Ketidak percayaan terhadap kemampuan, rasa malas atau ketidak mampuan diri untuk mengendalikan hawa nafsu (terutama makan dan jajan) hehe..
Mimpi, saya rasa setiap orang pasti memiliki mimpi yang berbeda-beda. Mimpi itu pasti yang membuat motivasi hingga saat ini bertahan.

Semoga saya dan anda dapat mewujudkan mimpi, meraih mimpi dan mendekat pada mimpi hingga mimpi itu ada dalam genggaman..